Sosok Dadan Erawan (33) dan Ginanjar MS (22) adalah dua sosok yang sangat setia menjemput semangat anak - anak yang tinggal diperbatasan Kabupaten Tasikmalaya dengan Kabupaten Garut.
Biaya sekolah. Ya, alasan klasik yang semakin menjamur dimasyarakat sehingga harus memaksa anak - anak mereka harus berhenti sekolah. Siti Rohayati (16) misalnya, seorang gadis remaja ini sempat terpaksa putus sekolah akibat keterbatasan biaya. Padahal sebenarnya ia sangat ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Tetapi, berkat semangat Dadan untuk menawarkan Rohayati dan ibunya, Endang agar Rohayati bisa bersekolah di SMK Widya Mukti dengan biaya seadanya, akhirnya Rohayati berhasil melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMK.
SMK Widya Mukti merupakan sekolah yang telah berdiri sejak tiga tahun lalu yang 80 persen dari jumlah siswanya adalah anak - anak yang kurang beruntung kemudian diajak bersekolah lagi. Siswa - siswi SMK Widya Mukti tidak perlu lagi direpotkan oleh masalah biaya. SMK Widya Mukti bersama tiga sekolah lain berada dibawah pengelolaan Yayasan Setia Bhakti. Yayasan ini menyisihkan sebagian penghasilan pasar tradisional Genteng di Garut dan toko alat - alat bangunan di Bandung untuk biaya operasional sekolah.
Turun ke lapangan untuk menjemput semangat ini sudah biasa ia lakukan. Ia memulai aksinya ketika seusai pelajaran disekolah. Meskipun sering mendapat penolakan dari para orang tua, tetapi hal tersebut tidaklah menyurutkan semangatnya. Karena tidak sedikit dari para orang tua itu yang akhirnya mengubah pikirannya lalu menyekolahkan anak - anaknya lagi.
Tidak hanya Dadan, Ginanjar yang merupakan rekan seperjuangannya ini pun turut serta melakukan aksi mulia tersebut. Keduanya kompak menjalankan SMK Widya Mukti tersebut. Disekolah itu, diajarkanlah kegiatan kewirausahaan. Enung (41) yang awalnya sempat menolak anaknya untuk bersekolah lagi karena keterbatasan biaya justru malah semakin mendukung. Bahkan rumahnya dijadikan tempat latihan memasak yang kemudian hasil masakan latihan para siswa jual di masyarakat.
Jumlah murid SMK Widya Mukti ini sempat mengalami penyusutan. Tetapi jumlah murid semakin meningkat di tahun kedua dan ketiga,
Ditahun ketiga, guru SMK Widya Mukti dibuat bangga oleh muridnya. Aas Trisnawati berhasil menyabet juara ketiga di Ajang Semarak Inovasi Pengembangan Pertanian Indonesia di Bogor. Karya tulisnya yang berjudul "Analisis Jumlah Petani di Tasikmalaya" berhasil memikat juri. Padahal sebelumnya ia sempat putus sekolah.
Anak - anak yang dulunya sempat susah payah diperjuangkan agar mau sekolah lagi berhasil membuktikan kemampuannya. Rohayati salah satunya, ia berhasil meraih peringkat tiga terbaik dikelasnya. Bahkan tak ragu lagi bagi ia untuk bercita - cita menjadi dokter.
Bakat besar bangsa ini tumbuh dimana saja. Dibutuhkan kesempatan dan kemauan agar dapat terasah dan terlatih menjadi lebih istimewa.
(sumber : Koran Kompas Edisi Rabu, 19 November 2014 artikel Sosok yang ditulis oleh Cornelius Helmy)
artikel ini hanya summary dari artikel aslinya.
Kecerdasan seseorang dapat diketahui dengan seberapa banyak pengetahuan yang ia miliki,walaupun pengetahuan tidak dapat diukur. Ilmu merupakan faktor yang paling membantu dalam proses mencari tau tentang pengetahuan itu sendiri.
BalasHapusTingkat anak-anak yang putus sekolah masih sangat tinggi, padahal sekolah merupakan pembentukan sebuah karakter. Ada banyak faktor yang membuat anak-anak berhenti untuk sekolah yaitu, kendala pada ekonomi, dan pernikahan diusia dini. Dengan adanya sosok Dadan Erawan dan Ginanjar MS sangat membantu bagi anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah. Saya bangga dengan mereka yang masih peduli akan dunia pendidikan. Semoga karya-karya dari SMK Widya Mukti nanti dapat mengharumkan nama Indonesia :)