Ikhwan Arief
Menyelamatkan Ekosistem Selat Bali
Ikhwan
Arief (30) dapat dikatakan sebagai seorang penyelamat ekosistem Selat Bali.
Sebab, berkat gerakan swadaya menyelamatkan terumbu karang Selat Bali yang ia
lakukan di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur ini, ia
berhasil bekerjasama dengan para nelayan untuk melestarikan ekosistem Selat
Bali.
Tak
mudah bagi Ikhwan untuk mengajak para nelayan untuk melestarikan lingkungan
dengan menangkap ikan menggunakan bom ikan. Karena didaerah tersebut sudah
secara turun temurun menangkap ikan menggunakan bom. Namun karena kegigihannya
dan semangatnya, dalam waktu 6 tahun ia berhasil mengajak 200 nelayan untuk
menjadi pelestari lingkungan.
Cara
awal yang Ikhwan lakukan untuk mengajak para nelayan tersebut adalah melalui
interaksi yang relative dekat dengan para nelayan, Ia kemudian mendapat
informasi bahwa ikan pada saat itu sudah semakin sulit didapat. Dahulu, para
nelayan tidak perlu berlayar jauh untuk menangkap ikan bahkan hanya di tepi
pantai saja mereka bisa mendapatkan ikan.
Ikhwan
pun merasa turut prihatin akan kejadian tersebut. Lalu ia menjelaskan penyebab
kesulitan yang para nelayan alami pada waktu itu. Kemudian Ikhwan memberikan
solusi kepada nelayan tersebut. Yaitu, mencoba untuk menangkap ikan tanpa
menggunakan bom.
Solusi
yang diberikannya sempat ditolak karena para nelayan tidak ingin hasil
tangkapannya semakin sedikit. Akan tetapi, Ikhwan terus menyemangati mereka dan
akhirnya mereka semakin solid. Hingga terbentuklah komunitas para nelayan yang
bernama Samudera Bhakti. Komunitas ini semakin melangkah yaitu dengan menanam
terumbu karang secara swadaya.
Untuk
melakukan gerakannya itu, mereka tidak membutuhkan banyak uang. Karena bahan –
bahan yang digunakan tidaklah mahal yakni Pipa paralon dan senar. Tidak hanya
bahan, niat dan tenaga pun mereka berikan untuk melakukan kegiatan ini..
Paralon
mereka rangkai lalu terbentuklah bujur sangkar lalu dipasang senar hingga
terbentuk jaring – jaring. Dititik sela – sela lubang jaring diselipkan semen
dari demplot bibit terumbu karang. Lalu rangkaian tersebut mereka taruh didasar
laut agar dijadikan tempat tinggal ikan.
Modal
pembuatan terumbu karang berasal dari sumbangan para nelayan. Selain nelayan,
siapapun bisa berpartisipasi untuk menyumbang agar dapat membangun terumbu
karang sederhana ini.
Untuk
menjaga agar ikan selalu berkembang biak dan tidak punah, mereka membuat zona
konservasi seluas 5 hektar. Zona konservasi itu terlarang bagi siapapun yang
ingin menangkap ikan.
Usaha
mereka tidak hanya sampai saat itu. Tetapi mereka selalu gigih untuk membangun
terumbu karang sederhana tersebut. Bahkan mereka mengajarkan anak SD dan SMA
tentang pembuatan terumbu karang. Hal ini dilakukan sebagai pembelajaran agar
mereka tidak merusak ekosistem air khususnya Selat Bali.
Tekad
Ikhwan melakukan kegiatan ini adalah sebagai penebus rasa bersalah karena
dahulu orang – orang suka menangkap ikan menggunakan bom ikan sehingga rusaklah
ekosistem tersebut.
Meskipun
tidak ada timbal balik materi, ia tetap merasa senang dan memperoleh kepuasan
yaitu dengan melihat ratusan ikan berenang. Dan ia juga senang melihat para
nelayan kini hidupnya lebih baik.
Ikhwan
memilih tinggal ditengah – tengah nelayan. Sehari – hari ia mengajar di
madrasah ibtidayah di Desa Bangsring. Ia
memiliki impian yaitu dapat membiayai beasiswa abadi bagi anak – anak nelayan.
Caranya dengan menanami jalur ditepi jalan desa dengan pohon yang bernilai
ekonomi.
“Jika
nanti pohon yang kita tanam itu berbuah atau sudah besar bisa dipetik atau
ditebang untuk biaya sekolah anak – anak nelayan,” kata Ikhwan.
(sumber
: artikel SOSOK Koran KOMPAS (Nomor 116 Tahun Ke-50) Senin, 27 Oktober 2014
yang ditulis oleh SIwi Yunita Cahyaningrum)
Artikel
yang saya tulis merupakan summary dari artikel aslinya.
Salut dengan sosok Bapak Ikwan, semoga semakin banyak masyarakat Indonesia yang mau menyelamatkan dan melestarikan ekosistem yang ada di Indonesia. Karena Indonesia sebenarnya sangatlah kaya, tetapi banyak yang tidak mau melestarikannya, melainkan merusaknya dengan teknologi yang ada.
BalasHapusBlog yang sederhana tapi memuat post yang bermakna ya.
BalasHapusSalah satunya post ini, saya tertarik karena sosok Bapak Ikhwan yang peduli dengan ekosistem di Indonesia. Karena banyak masyarakat yang tidak mau melestarikan tapi malah melakukan hal yang sifatnya merusak. Terima kasih atas post yang bagus ini:D
trimakasih mb' gina, salam kenal, semoga kita senantiasa diberi kekuatan dan keikhlasan untuk berbuat kepada sesama dan lingkungan sekitar kita.
BalasHapus