Selasa, 28 Oktober 2014

KORAN KOMPAS SOSOK IKHWAN ARIEF

Ikhwan Arief

Menyelamatkan Ekosistem Selat Bali


                Ikhwan Arief (30) dapat dikatakan sebagai seorang penyelamat ekosistem Selat Bali. Sebab, berkat gerakan swadaya menyelamatkan terumbu karang Selat Bali yang ia lakukan di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur ini, ia berhasil bekerjasama dengan para nelayan untuk melestarikan ekosistem Selat Bali.
                Tak mudah bagi Ikhwan untuk mengajak para nelayan untuk melestarikan lingkungan dengan menangkap ikan menggunakan bom ikan. Karena didaerah tersebut sudah secara turun temurun menangkap ikan menggunakan bom. Namun karena kegigihannya dan semangatnya, dalam waktu 6 tahun ia berhasil mengajak 200 nelayan untuk menjadi pelestari lingkungan.
                Cara awal yang Ikhwan lakukan untuk mengajak para nelayan tersebut adalah melalui interaksi yang relative dekat dengan para nelayan, Ia kemudian mendapat informasi bahwa ikan pada saat itu sudah semakin sulit didapat. Dahulu, para nelayan tidak perlu berlayar jauh untuk menangkap ikan bahkan hanya di tepi pantai saja mereka bisa mendapatkan ikan.
                Ikhwan pun merasa turut prihatin akan kejadian tersebut. Lalu ia menjelaskan penyebab kesulitan yang para nelayan alami pada waktu itu. Kemudian Ikhwan memberikan solusi kepada nelayan tersebut. Yaitu, mencoba untuk menangkap ikan tanpa menggunakan bom.
                Solusi yang diberikannya sempat ditolak karena para nelayan tidak ingin hasil tangkapannya semakin sedikit. Akan tetapi, Ikhwan terus menyemangati mereka dan akhirnya mereka semakin solid. Hingga terbentuklah komunitas para nelayan yang bernama Samudera Bhakti. Komunitas ini semakin melangkah yaitu dengan menanam terumbu karang secara swadaya.
                Untuk melakukan gerakannya itu, mereka tidak membutuhkan banyak uang. Karena bahan – bahan yang digunakan tidaklah mahal yakni Pipa paralon dan senar. Tidak hanya bahan, niat dan tenaga pun mereka berikan untuk melakukan kegiatan ini..
                Paralon mereka rangkai lalu terbentuklah bujur sangkar lalu dipasang senar hingga terbentuk jaring – jaring. Dititik sela – sela lubang jaring diselipkan semen dari demplot bibit terumbu karang. Lalu rangkaian tersebut mereka taruh didasar laut agar dijadikan tempat tinggal ikan.
                Modal pembuatan terumbu karang berasal dari sumbangan para nelayan. Selain nelayan, siapapun bisa berpartisipasi untuk menyumbang agar dapat membangun terumbu karang sederhana ini.
                Untuk menjaga agar ikan selalu berkembang biak dan tidak punah, mereka membuat zona konservasi seluas 5 hektar. Zona konservasi itu terlarang bagi siapapun yang ingin menangkap ikan.
                Usaha mereka tidak hanya sampai saat itu. Tetapi mereka selalu gigih untuk membangun terumbu karang sederhana tersebut. Bahkan mereka mengajarkan anak SD dan SMA tentang pembuatan terumbu karang. Hal ini dilakukan sebagai pembelajaran agar mereka tidak merusak ekosistem air khususnya Selat Bali.
                Tekad Ikhwan melakukan kegiatan ini adalah sebagai penebus rasa bersalah karena dahulu orang – orang suka menangkap ikan menggunakan bom ikan sehingga rusaklah ekosistem tersebut.
                Meskipun tidak ada timbal balik materi, ia tetap merasa senang dan memperoleh kepuasan yaitu dengan melihat ratusan ikan berenang. Dan ia juga senang melihat para nelayan kini hidupnya lebih baik.
                Ikhwan memilih tinggal ditengah – tengah nelayan. Sehari – hari ia mengajar di madrasah ibtidayah di  Desa Bangsring. Ia memiliki impian yaitu dapat membiayai beasiswa abadi bagi anak – anak nelayan. Caranya dengan menanami jalur ditepi jalan desa dengan pohon yang bernilai ekonomi.
                “Jika nanti pohon yang kita tanam itu berbuah atau sudah besar bisa dipetik atau ditebang untuk biaya sekolah anak – anak nelayan,” kata Ikhwan.


(sumber : artikel SOSOK Koran KOMPAS (Nomor 116 Tahun Ke-50) Senin, 27 Oktober 2014 yang ditulis oleh SIwi Yunita Cahyaningrum)

                                                                               

                                              Artikel yang saya tulis merupakan summary dari artikel aslinya.

3 komentar:

  1. Salut dengan sosok Bapak Ikwan, semoga semakin banyak masyarakat Indonesia yang mau menyelamatkan dan melestarikan ekosistem yang ada di Indonesia. Karena Indonesia sebenarnya sangatlah kaya, tetapi banyak yang tidak mau melestarikannya, melainkan merusaknya dengan teknologi yang ada.

    BalasHapus
  2. Blog yang sederhana tapi memuat post yang bermakna ya.
    Salah satunya post ini, saya tertarik karena sosok Bapak Ikhwan yang peduli dengan ekosistem di Indonesia. Karena banyak masyarakat yang tidak mau melestarikan tapi malah melakukan hal yang sifatnya merusak. Terima kasih atas post yang bagus ini:D

    BalasHapus
  3. trimakasih mb' gina, salam kenal, semoga kita senantiasa diberi kekuatan dan keikhlasan untuk berbuat kepada sesama dan lingkungan sekitar kita.

    BalasHapus