Selasa, 25 November 2014

Artikel Sosok Koran KOMPAS Sambel Encim Lombok Merambah Pasar

Sambal. Sudah tak asing lagi, bukan? Di berbagai kalangan, sambal merupakan hal yang wajib berada dipiring mereka. Sambal memiliki banyak jenis dengan cita rasa yang berbeda - beda. Dan kini tengah populer sambal dalam kemasan. Salah satunya adalah Sambal Encim, sambal khas Lombok. Sambal Encim sendiri kini tersedia dalam kemasan yang dibuat Happy Nathalia (42).

Bisnis Sambal Encim dalam kemasan ini telah digulati Happy sejak tahun 2011. Awalnya ia tidak membuat banyak sambal kemasan tersebut karena hanya untuk dijual ke teman - temannya. Sebelumnya ia sekadar melakukan eksperimen meracik sambal tersebut lalu kemudian hasil eksperimennya itu, ia bagikan kepada para tetangga dan sahabat - sahabatnya. Mendapat respon yang positif, akhirnya ia semakin mengembangkan sambal racikannya tersebut.

Sambal hasil racikannya ini berhasil menembus pasaran. Sambalnya tersebut kini sering dijadikan cindera mata oleh para wisatawan yang berkunjung ke Lombok. Selain itu, Sambal Encim racikannya ini sudah terkenal dimana - mana seperti Jakarta, Surabaya, Tangerang dan bahkan negara lain seperti Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura. Sambalnya semakin terkenal karena ia pun mempromosikan lewat jejaring sosial.

Happy menjual Sambal Encim ke pasaran dengan harga Rp 25.000 per botol. Tetapi apabila ada pembeli luar daerah yang ingin membeli  sambalnya harus dikenakan biaya tambahan seperti biaya ongkos kirim.

Kendala yang ia rasakan ketika menjalankan usaha ini adalah ketika harga cabai dipasaran naik. Hal tersebut cukup memusingkan bagi Happy. Tetapi meskipun begitu, Happy tidak menaikkan harga jual Sambal Encimnya itu.

Happy tampaknya memang benar - benar kreatif. Maklumlah, bakat kulinernya ini menurun dari ibunya, yang dahulu pernah membuka katering. Berbagai jenis sambal seperti, sambal terasi taliwang, sambal cabai hijau, sambal ebi, sambal ikan asap, sambal rendang, dan sambal rumput laut.Tidak hanya sambal, ia pun membuat makanan jenis abon.

Selain olahan sambal dan abon tadi, Happy pun membuat ayam penyet khas lombok atau yang dikenal ayam ungkep. Ayam ungkep buatannya ini tidak kalah enak dengan makanan produksinya yang lain. Ayam ungkepnya ini juga sering menjadi minat wisatawan.

Ayam ungkep Happy tidak mengandung bahan pengawet. Ayam buatannya itu mampu bertahan sekitar satu minggu. Akan tetapi apabila ayam tersebut dibungkus dalam plastik hampa udara dan dimasukkan ke dalam freezer, ayam ini mampu bertahan selama 3 bulan tanpa mengurangi cita rasa. Ayam ungkepnya itu ia hargai sebesar Rp 30.000 untuk 1 paket yang berisi satu paha ayam dan satu dada ayam.

"Jika hendak disantap, ayam ini tinggal dihangatkan dengan cara digoreng atau dibakar," kata Happy yang berpesan agar jangan lupa dengan sambal khasnya.



(sumber : artikel SOSOK Koran KOMPAS edisi Selasa, 25 November 2014 oleh Khaerul Anwar)

(artikel di blog ini hanya summary dari artikel aslinya)

Minggu, 23 November 2014

Artikel SOSOK KORAN KOMPAS "Jatuh Cinta Pada Bambu Nusantara"



MA Setyanto (47) atau yang biasa dipanggil Mastok sangat bersemangat. Semangatnya tersebut terlihat ketika ia tengah memaparkan rencana Ekspedisi Rakit Bambu pada April 2015. Ia terinspirasi akan kejayaan maritime Nusantara untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-70.

Rakit yang digunakannya berbentuk perahu dengan ukuran panjang 14 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 2 meter. Rakit tersebut mampu membawa bobot hingga 1 ton.

Ia akan melakukan ekspedisinya itu bersama kedua rekannya. Tujuan ekspedisinya adalah Banten sehingga ia akan menempuh 1000 mil dan diperkirakan menempuh waktu selama 6 bulan.

Tim Mastok tidak hanya sekadar melintasi laut. Tapi timnya akan singgah dibeberapa pelabuhan di Pulau Jawa. Di setiap perjalanan, ia akan mengundang kru tamu untuk bergabung.

Meskipun banyak orang yang meragukan rencananya ini, ia tetap bersemangat dan mantap untuk melaksanakannya. Ia ingin menyegarkan budaya Indonesia melalui budaya bahari ini. Selain itu ia juga ingin memanfaatkan bambu yang selama ini kerap dijadikan bahan untuk membuat perahu.
Semangat Mastok ini unik. Dahulu ia pernah tinggal di Amerika dan bekerja disalah satu perusahaan pembuat kincir angin. Namun ia justru memilih tinggal dipelosok Indonesia.

Mastok sering berkeliling menjelajah Indonesia. Tetapi penjelajahan yang ia lakukan tentunya dengan tujuan positif. Seperti, membantu korban – korban bencana alam. Bantuan yang ia lakukan tentu tidak jauh dari bambu, yang sangat identik dengannya. Salah satu bantuan yang ia lakukan adalah ketika Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam  mengalami bencana tsunami, ia membantu membuat jaringan radio dan rumah bambu sederhana yang berukuran 6 meter x 6 meter. 

Pada tahun 2006, ia pergi ke Garut Selatan. Disana, ia membuat suatu Program yang dinamakan “Flying Building, Flying Village”. Ia membangun rumah yang berbentuk seperti rumah panggung dengan bahan dasar bambu.

Ketika ia tengah berada di Garut Selatan, ia mendengar kabar bahwa Provinsi Sumatera Barat mengalami bencana. Dengan sisa uang seadanya, ia pergi menuju Sumatera Barat untuk membantu. Bantuan yang ia lakukan kali ini adalah membangun tempat sanitasi.

Perjalanan pun ia lakukan lagi menuju ke provinsi Banten dan Jawa Barat bagian selatan. Dengan bambunya, ia membangun pembangkit listrik mikrohidro. Mastok pun semakin paham akan karakteristik bambu.

Mastok pun membagi ilmunya, dengan penanaman bambu dari batangnya,bukan dari bonggolnya. Manfaat yang diperoleh juga berupa kenyamanan dan pendapatan ekonomi.
Sepak terjangnya bergulat dengan bamboo membuat ia menjadi semakin terkenal diberbagai kalangan. Ia sering diminta untuk menjadi pembicara di berbagai Universitas di Indonesia. Berbagai pakar bambu dari luar negeri pun sering berbagi ilmunya. Mereka sangat tertarik akan kekayaan bambu di Indonesia.

Mastok memiliki cita - cita untuk membuat arboretum bamboo. Dalam arboretum tersebut, ia ingin menanam berbagai jenis bambu. Tujuan dari cita – citanya tersebut, ia ingin mewariskan dan menjaga kekayaan Nusantara.

(sumber : Koran KOMPAS SOSOK Edisi Sabtu, 22 November 2014 ditulis oleh Cornellius Helmy)

(artikel ini hanya summary dari artikel aslinya)

Rabu, 19 November 2014

Menjemput Semangat dan Bakat Mereka

Sosok Dadan Erawan (33) dan Ginanjar MS (22) adalah dua sosok yang sangat setia menjemput semangat anak - anak yang tinggal diperbatasan Kabupaten Tasikmalaya dengan Kabupaten Garut.

Biaya sekolah. Ya, alasan klasik yang semakin menjamur dimasyarakat sehingga harus memaksa anak - anak mereka harus berhenti sekolah. Siti Rohayati (16) misalnya, seorang gadis remaja ini sempat terpaksa putus sekolah akibat keterbatasan biaya. Padahal sebenarnya ia sangat ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Tetapi, berkat semangat Dadan untuk menawarkan Rohayati dan ibunya, Endang agar Rohayati bisa bersekolah di SMK Widya Mukti dengan biaya seadanya, akhirnya Rohayati berhasil melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMK.

SMK Widya Mukti merupakan sekolah yang telah berdiri sejak tiga tahun lalu yang 80 persen dari jumlah siswanya adalah anak - anak yang kurang beruntung kemudian diajak bersekolah lagi. Siswa - siswi SMK  Widya Mukti tidak perlu lagi direpotkan oleh masalah biaya. SMK Widya Mukti bersama tiga sekolah lain berada dibawah pengelolaan Yayasan Setia Bhakti. Yayasan ini menyisihkan sebagian penghasilan pasar tradisional Genteng di Garut dan toko alat - alat bangunan di Bandung untuk biaya operasional sekolah.

Turun ke lapangan untuk menjemput semangat ini sudah biasa ia lakukan. Ia memulai aksinya ketika seusai pelajaran disekolah. Meskipun sering mendapat penolakan dari para orang tua, tetapi hal tersebut tidaklah menyurutkan semangatnya. Karena tidak sedikit dari para orang tua itu yang akhirnya mengubah pikirannya lalu menyekolahkan anak - anaknya lagi.

Tidak hanya Dadan, Ginanjar yang merupakan rekan seperjuangannya ini pun turut serta melakukan aksi mulia tersebut. Keduanya kompak menjalankan SMK Widya Mukti tersebut. Disekolah itu, diajarkanlah kegiatan kewirausahaan. Enung (41) yang awalnya sempat menolak anaknya untuk bersekolah lagi karena keterbatasan biaya justru malah semakin mendukung. Bahkan rumahnya dijadikan tempat latihan memasak yang kemudian hasil masakan latihan para siswa jual di masyarakat.

Jumlah murid SMK Widya Mukti ini sempat mengalami penyusutan. Tetapi jumlah murid semakin meningkat di tahun kedua dan ketiga,

Ditahun ketiga, guru SMK Widya Mukti dibuat bangga oleh muridnya. Aas Trisnawati berhasil menyabet juara ketiga di Ajang Semarak Inovasi Pengembangan Pertanian Indonesia di Bogor. Karya tulisnya yang berjudul "Analisis Jumlah Petani di Tasikmalaya" berhasil memikat juri. Padahal sebelumnya ia sempat putus sekolah.

Anak - anak yang dulunya sempat susah payah diperjuangkan agar mau sekolah lagi berhasil membuktikan kemampuannya. Rohayati salah satunya, ia berhasil meraih peringkat tiga terbaik dikelasnya. Bahkan tak ragu lagi bagi ia untuk bercita - cita menjadi dokter.

Bakat besar bangsa ini tumbuh dimana saja. Dibutuhkan kesempatan dan kemauan agar dapat terasah dan terlatih menjadi lebih istimewa.

(sumber : Koran Kompas Edisi Rabu, 19 November 2014 artikel Sosok yang ditulis oleh Cornelius Helmy)

artikel ini hanya summary dari artikel aslinya.

Rabu, 05 November 2014

Summary Artikel KOMPAS "Yang Berumah di Awan"



Sosok
Samuel Franklyn

Yang Berumah di Awan

                Samuel Franklyn (45) yang kini terbaring menghadap layar computer yang bertengger di antara pipa – pipa diatas dadanya. Melihat sosoknya, muncullah bayangan pakar fisika Stephen William Hawking yang sama – sama memiliki kekurangan.
            Ketika ditanya soal Hawking, ia tertawa. Ia mengagumi beberapa hal pada Hawking. Tapi ada satu hal yang Ia tentang. Menurut Hawking, dalam ilmu pengetahuan Tuhan itu tidak ada. Sam pun bertanya, apakah Hawking dapat membuktikan eksperimennya itu? Hawking memang jagoan fisika, tetapi bukan untuk untuk fisika terapan. Padahal dalam perkembangannya, teori fisika bisa direduksi dengan hukum matematika.
            Sam lalu menjelaskan tentang perkembangan ilmu fisika. Sam memang hobi membaca dan belajar banyak hal.
            Sam terbaring karena separuh bagian tubuhnya lumpuh sejak 2010 lalu. Ketika ia hendak pergi ke kantor, ia jatuh. Kaki kirinya lemas. Lalu setelah itu ia sering mengalami kejang dan sakit perut. Hingga beberapa waktu kemudian, ia dinyatakan lumpuh.
            Meskipun ia dalam keadaan yang tidak baik, ia tetap bekerja meskipun bukan sebagai pekerja kantoran. Kini ia bekerja sebagai pekerja kontrak. Awalnya, ia menjadi pemrogram di Taksi Gamya lalu ia pindah ke Galileo Indonesia. Pekerjaannya adalah menjawab pertanyaan – pertanyaan seperti mengapa pekerjaan tidak dapat dijalankan dan mesin mana yang harus dipilih untuk menjalankan suatu program.
            Sam sempat mendirikan suatu perusahaan, Jendela Inspirasi Informatika. Belum sempat berkembang, perusahaan itu gulung tikar.
            Sam bersama temannya, membuat materi belajar menggabungkan Java dengan AS/400. Java adalah bahasa program yang diciptakan Sun Microsystem.
            Menurut Sam, pemakaian Java dengan AS/400 untuk membangun platform software bisnis adalah investasi baik untuk jangka panjang.
Sam pernah mendapat penghargaan oleh Sun Developer Community pada tahun 2008. Karena ia developer yang paling banyak membantu orang.
            Sam kerap membagikan ilmu programmingnya secara cuma – cuma. Sam tidak merasa rugi karena hal tersebut. Sam menyatakan bahwa secara tidak langsung, personal brand-nya terbangun. Sehingga orang percaya terhadap kemampuannya dan menawarkan pekerjaan padanya.
            Sam menyatakan bahwa ia sangat mengagumi Bil Gates. Meskipun begitu, Sam yang menguasai berbagai macam program Microsoft Office ini tidak suka dengan cara Bil Gates berbisnis. Ia senang ketika Bil Gates dinyatakan bersalah dalam monopoli usaha lalu akhirnya Bil Gates mengisi hidupnya untuk membantu sesama lewat satu yayasan. Sumbangan Bil Gates ini antara lain pada Khan Academy. Lewat dunia maya, Khan berhasil memberikan pendidikan gratis lewat penayangan video pengajaran aritmetika, aljabar, kalkulus, dan trigonometri pada para siswanya.
            Menurut Sam, pendidikan tersebut sangat baik untuk membuat proyek dikelas. Ia pun yakin bila pendidikan tersebut diterapkan di Indonesia, Bangsa Indonesia akan mendapatkan akses pendidikan gratis.
            Sam lalu menceritakan tentang komunitas digital nomad yang sama – sama berumah di awan. Tetapi meskipun begitu, gaya hidupnya berbeda dengan komunitas digital nomad. Komunitas digital nomad mencari nafkah lalu ia berkeliling dunia dengan hasil dari penjualan program lewat website. Ketika uang habis, mereka kembali bekerja. Begitu terus, sambil berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya.
            Ketika Sam ditanya soal apa yang menyedihkan. Sam menganggap pertanyaan itu cengeng. Dan ketika Sam ditanya hal apa yang membahagiakan, Sam berkata, “Ketika teman – teman datang berkunjung,”
(Sumber : Koran KOMPAS Rabu, 5 November 2014 artikel SOSOK oleh Windoro Adi dan Denty Piawai Nastitie)
                        Artikel ini hanya summary dari artikel aslinya.