Darmawan Denassa
Menyelamatkan “Warisan” Anak-Cucu Sulawesi
Darmawan Denassa (38), seorang
warga Kelurahan Tamallayang, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa telah menyelamatkan “warisan” anak-cucu
Sulawesi. Warisan apa yang diselamatkan? Dan apakah yang Darmawan Denassa
lakukan untuk menyelamatkan warisan tersebut.
“Warisan” yang dimaksud adalah
tanaman. Karena tanaman merupakan sumber ekonomi dan penjaga ekosistem. Selain itu,
tanaman juga menjalin ikatan sosiologis dan cultural dengan manusia yang dihidupinya.
Saat puluhan jenis tanaman, termasuk
tanaman endemis Sulawesi, makin langka dari bumi Sulawesi Selatan. Hal tersebut
yang melatarbelakangi Denassa bergerak menyelamatkannya dengan cara mendirikan Rumah
Hijau Denassa pada tahun 2007 lalu dengan luas lahan 1 hektar yang sekaligus
menjadi rumah tinggalnya.
Denassa menanam dan melakukan
pembibitan baik tanaman endemis maupun non-endemis. Hingga kini terdapat 450
jenis tanaman yang dilestarikan di RHD. Tanaman – tanaman tersebut mulai dari
kacang – kacangan, kayu – kayuan, bunga – bungaan, perdu, dan buah – buahan.
RHD menjadi sejuk dan asri dengan hadirnya tanaman tersebut.
Pencapaian yang didapatkan Denassa
bukanlah hal yang mudah. Untuk mendapatkan bibit, Denassa harus mencari di
berbagai wilayah di Sulawesi. Keluar-masuk hutan pun ia lakukan demi
mendapatkan bibit.
Kerja keras ini ia lakukan demi
melestarikan tanaman – tanaman yang saat ini mulai punah. Ia melakukan semua
ini untuk generasi – generasi berikutnya. Penyebab punahnya tanaman – tanaman tersebut
yaitu,tekanan alih fungsi hutan, penggunaan yang massif, pertambangan, bahkan alasan sepele yang katanya mengganggu
manusia contohnya tanaman Kawuasa.
Tanaman Kawuasa merupakan tanaman
yang menghasilkan buah yang berbulu dan membuat gatal. Sehingga manusia pun
membabat tanaman tersebut. Dan akhirnya tanaman tersebut langka. Padahal zaman
dahulu, tanaman itu adalah senjata ranjau ala penduduk Sulawesi untuk melawan
penjajah Belanda. Efek gatal – gatal hebat membuat penjajah Belanda menjadi
ciut.
Tetapi meskipun fungsinya terkesan kuno,
Denassa tetap yakin bahwa setiap tanaman pasti punya manfaatnya masing –
masing.
Denassa yang sebelumnya adalah dosen
luar bisa Fakultas Sastra Universitas Hasanudin, kini beralih focus untuk
mengurus upaya konservasi tanaman – tanaman yang ia lakukan saat ini. Karena
baginya, hal ini penting.
Selain urusan
konservasi, Denassa pun membuka pembelajaran bagi siapapun yang ingin belajar
di RHD dan belajar tentang budaya, tradisi,
etika, lingkungan, serta moral. Ia membuka
pelajaran bagi seluruh siswa baik dari sekolah dasar maupun sekolah menengah
atas.
RHD
dibuka untuk umum dan biayanya gratis. Serta denassa pun tak segan membagikan
bibit bagi siapapun yang menginginkannya.
Denassa
tidak mempermasalahkan imbalan materi. Ia melakukannya dengan ikhlas. Bahkan
meskipun ia juga harus mengeluarkan uang setiap bulannya kurang lebih sebanyak
Rp 1 juta untuk biaya operasional RHD.
“Saya
percaya, melakukan kebaikan itu lebih berharga daripada harga benda apapun.” katanya
(Sumber: Koran KOMPAS Nomor 119 Tahun
ke-50 Kamis, 30 Oktober 2014 oleh Mohamad Final Daeng)
(artikel ini adalah summary dari
artikel aslinya)
Kegiatan yang dilakukan oleh Bapak Denassa ini sudah sangat langka untuk jaman sekarang yaitu perduli dengan tanaman.Di jaman sekarang kegiatan menanam kembali ini sangatlah dibutuhkan karena bumi sudah semakin panas dikarenakan polusi yang terus meningkat. Tanaman ini juga dibutuhkan untuk anak-cucu kita di masa yang akan datang.
BalasHapusKesadaran manusia akan pentingnya kelangsungan tanaman di dunia ini sudah sangat langka. Saya salut terhadap Bapak Denassa yang ingin melestarikan tanaman-taman agar tidak punah. Semoga sosok beliau dapat menjadi insiprasi kita semua agar mau membudidayakan tanaman supaya tidak punah dengan adanya alih fungsi lahan:)
BalasHapus